Selamat Datang di KEDAI SEKOLAH DASAR , blog belajar untuk berbagi, jika berkenan tinggalkan pesan

nenek-nenek narcis

Kamis, 01 Maret 2012

DOEA TANDA MATA, DOEA TANDA BATJA, DOEA TANDA TANJA

( Warisan Sejarah Silam Yang Hilang )

Semangatmu tak lagi MERAH berkobar membakar kezaliman antar manusia, ketulusanmu tak lagi bersih PUTIH suci memperjuangkan keadilan anak- anak bangsa.
Bendera tinggal simbol dan berhala di lapangan upacara.
Ruh MERAH PUTIH telah luntur terendam, tercuci dan terbilas teknologi dan pembangunan.

GARUDA, simbol sakral spirit perjuangan, tinggal sisa- sisa 'Sedjarah Tempo Doeloe'. Prasasti di balairung istana raja dan ruang rapat hulu balang danpara punggawa.
Sayap- sayapnya luruh, 'mbrodholi', 17 helai bulunya rontok tak bisa terbang menjelajah bumi nusantara, 8 helai bulu ekor dan 45 bulu di lehernya juga rontok. Sang Perkasa lunglai dikarantina, gagal mengemban amanat proklamasi.

Mengapa bisa terjadi prahara ini ? Dan bagaimana akan akan bisa membentangkan sayap mengayomi anak- anak negeri ?

Perisai di dadanya mulai berkarat, lubang sana- sini, kalungnya juga nyaris putus. Gambar bintang, rantai, beringin, banteng, padi dan kapas pudar warnanya, samar- samar.
Ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan dan keadilan tinggal slogan- slogan.

Perisai bangsa ! Perisai itu tak terawat dan terabaikan. Bagaimana akan kokoh menghadang benturan dan serangan musuh, setan- setan ideologi dan peradaban zaman?
Garuda itu, garuda itu, ke mana ruhnya terbang...?

" TITIK dan KOMA, doea tanda batja sisa- sisa. "

Roda sejarah tak pernah berhenti berputar, selalu KOMA, beristirahatlah barang sebentar, tapi jika tertidur, maka lenyaplah kewaspadaan.
Koma menjadi penantian diruang ICU, pertaruhan nyawa, lolos dan melanjutkan perjalanan, atau gagal dan berhenti menjadi TITIK, selesai.

Titik kritis, titik nadir, titik kulminasi, titik akhir.
Atau titik balik, titik terang, titik titik memanjang di depan tak berujung, menyempurnakan putaran roda warisan sejarah,
menghantarkan pesan leluhur, kesejahteraan kerakyatan berkeadilan..."

" MENGAPA dan BAGAIMANA, Doea Tanda Tanja klasik, "
pertanyaan abadi 'wong cilik',
kaum pinggiran yang hidupnya tercekik.
Tangan- tangan jahat sesama saudara, tetap mewariskan khazanah pertanyaan,
" Mengapa harus terjadi di sini, di tanah ini, di bumi pertiwi,
Mengapa tak jua diakhiri,
Mengapa tiada yang peduli nasib kami ? "
" Bagaimana kami harus berbuat,
seluruh pintu tertutup rapat,
inikah tanda dan isyarat,
bahwa kiamat sudah dekat ? "

Merah putih dan Garuda, titik dan koma, mengapa dan bagaimana, biarlah menjadi ' peladjaran sedjarah ', renungan bersama bocah- bocah sekolah,
jiwa- jiwa polos itu, harapan bangsa, generasi penerus meraih hari esok LEBIH BAIK dan LEBIH CERAH...
»»  READMORE...

Kamis, 23 Februari 2012

GNPK

VISI : Terwujudnya Aparatur Negara yang bersih dan bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme.
MISI : Meningkatkan kemauan dan kemampuan aparatur negara dan masyarakat untuk berperan aktif agar secara bertahap mewujudkan aparatur negara yang bersih dan bebas KKN, melalui pendekatan secara struktural, kultural,spiritual berlandaskan hukum, dibangkitkan potensi aparatur dan masyarakat untuk menolak korupsi, kolusi dan nepotisme.
PROGRAM KERJA GNPK :
PENYULUNAN 70% : sebagai upaya pencegahan melalui Media Cetak dan Elektronik, Pamflet, Leaflet, Stiker, Poster, Spanduk, Media Da’wah, Seminar, Lokakarya, Diklat dan Dialog.
PEMBERANTASAN 30% : Sebagai upaya mendapatkan kepastian hukum yang sebelumnya dilakukan tahapan-tahapan antara lain dengan Pemberitahuan dimulainya proses klarifikasi yang ditujukan kepada Penegak Hukum, Klarifikasi, Investigasi dan bila diperlukan Bedah Kasus yang kemudian dituangkan dalam Administrasi pelaporan sebagai dasar laporan resmi GN-PK kepada Penegak Hukum
ALASAN MENDASAR
KENAPA GN-PK HARUS LAHIR?
1. Agenda reformasi dibidang HUKUM belum dapat berjalan sebagaimana yang diharapkan bangsa Indonesia, sehingga penegakan Supremasi HUkum sangat lamban, salah tebang pilih dan pilih kasih
2. Menjamurnya lembaga sosial kontrol masyarakat di Era Reformasi yang menjadikan fungsi kontrol masyarakat terhadap penyelenggara negara menjadi bias, karena rakyat dalam mengiplementasikan peran serta masyarakat terhadap penyelenggara negara tidak fokus pada substansi memperbaiki, namun sudah pada alur kepentingan sesaat kelompok yang selalu mengatasnamakan rakyat.
3. Banyaknya kasus Tindak Pidana Korupsi yang dilaporkan masyarakat kepada Aparat Penegak Hukum dari tingkat Pusat sampai Daerah, namun penanganannya sangat lamban dan tidak transparan.
4. Lahirnya Peraturan perundang-undangan yang sering dan serat muatan kepentingan politis berdampak terhambatnya proses penegakan supremasi hukum.
5. Hilangnya kepercayaan masyarakat di Era Reformasi terhadap penyelenggara negara sipil dan militer sangat berpengaruh pada proses pembangunan Bangsa.
PENCANANGAN
# Bertepatan dengan Peringatan Hari Antikorupsi Sedunia Tanggal 09 Desember 2004, maka Persiden RI mencanangkan Gerakan Nasional Pemberantasan Korupsi di hadapan Pejabat Penyelenggara Negara Sipil dan Muliter seluruh Indonesia dengan Instruksi Presiden No.5 tahun 2004 tentang Percepatan Pemberantasan Korupsi secara kolosal.
LAHIRNYA GN-PK
#. Dengan di dorong oleh semangat 1945 serta keiklasan yang tulus untuk berperan aktif memberantas tindak pidana korupsi, maka segenap lapisan masyarakat Indonesia tanpa membedakan suku, ras, agama, pada hari Senin 23 Agustus 2004 di Jakarta seluruh perwakilan elemen masyarakat telah menyatukan diri bergabung dalam “Gerakan Nasional Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi”. Sebuah gerakan permanen yang berbadan Hukum.
#. Untuk menjaga gerakan ini murni dan tulus, maka disusunlah AD,ART, Peraturan Organisasi, Kode Etik dan Ikrar yang berlaku wajib dijunjung tinggi oleh seluruh anggota GN-PK.
KEDUDUKAN DAN PERAN GN-PK
Secara Normatif Dalam
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi
Peran serta masyarakat yang berhimpun dalam GN-PK dalam melakukan pencegahan dan pemberantasan tindak pidana korupsi di jamin kedudukan dan perananya oleh Peraturan dan Perundangan sebagaimana dibawah ini :
1. Undang-undang Dasar 1945
2. TAP MPR RI No.X/MPR/1998 tentang Penyelenggaran Negara Yang Bersih dan Bebas Korupsi, Kolusi dan Nepotisme.
3. TAP MPR RI No. VII/MPR/2001 tentang Rekomendasi Arah Kebijakan Pemberantasan dan Pencegahan Korupsi, Kolusi dan Nepotisme. UU No. 28/1999 tentang Penyelenggaran Negara Yang Bersih dan Bebas Korupsi, Kolusi dan Nepotisme.
4. Undang-undang RI No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi
5. Undang-undang RI No. 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi
7. Peraturan Pemerintah RI No. 68 Tahun 1999 tentang Tata Cara Peran Serta Masyarakat Dalam Penyelenggaraan Negara.
8. Peraturan Pemerintah RI No. 71 Tahun 2000 tentang Tata Cara Peleksanaan Peran Serta Masyarakat dan Pemberian Penghargaan Dalam Pencegahan dan Pemberantasan Tndak Pidana Korupsi.
KEDUDUKAN DAN PERAN GN-PK
Secara Operasional Dalam
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi
#. Peran serta masyarakat yang berhimpun di dalam GN-PK untuk ikut serta mewujudkan Penyeleggaraan Negara yang bersih dan bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme, yang pelaksanaanya mengacu pada norma hukum, moral dan sosial yang berlaku di masyarakat.
KESIMPULAN
# Korupsi dianggap sudah menjadi Penyakit Kronis yang sangat akut dan terus mengalir tak terbendung menggerogoti sel-sel darah bangsa, maka satu-satunya jalan harus dilakukan operasi besar untuk menyembuhkan bangsa ini sebelum ajal mejemputnya.
# Untuk melakukan operasi besar, diperlukan ruangan yang steril, tim yang memiliki ilmu dan kelompok bekerja, peralatan yang memadai, obat-obatan yang dibutuhkan, biaya yang diperlukan dan waktu yang dapat diperhitungkan.
PENUTUP
Mari bersama-sama mencegah terjadinya KKN di dalam penyelenggaraan Negara, khususnya pada Pemerintah Daerah Kabupaten di Jawa Tengah
Tanpa Kesadaran dan keiklasan yang tulus dari penyelenggara Negara, Sulit rasanya membendung Virus Korupsi yang setiap saat dapat mengalir deras ke sel-sel tubuh kita, sehingga pastikan Darah Yang Mengalir Di Tubuh Kita Berasal Dari Uang Halal.
Mencegah labih baik dari pada mengobati, jangan sampai terjadi pengobatan melalui operasi besar, sayangilah masa depan anak cucu Kita, jangan ciderai masa depanya dengan noda hitam, tapi hiasilah dengan pengabdian suci pada Bangsa
»»  READMORE...

M U S T A H I L

( Kepandiran Massal )

Mustahil membersihkan lantai kotor dengan sapu yang kotor ! Alih- alih berharap lantai bersih justru yang didapati masih saja tetap kotor, bahkan bisa jadi lebih kotor dari sebelumnya. Mungkin saja, jika jumlah kotoran yang menempel di alat sapu lebih lebih banyak dari yang ada di lantai.

Kepandiran berpikir makin banyak dijumpai di dalam masyarakat sampai detik ini. Dalam banyak hal, urusan, dari yang sederhana hingga yang rumit, dari yang remeh temeh sampai urusan serius, dari urusan rumah tangga sampai urusan negara.


Mustahil memberantas korupsi jika ditempuh dengan cara- cara korup.
Mustahil membersihkan badan dan lembaga jika berangkat dengan cara yang kotor.
Mustahil menciptakan suasana bersih dan berwibawa dengan cara yang tidak bersih dan berwibawa.

Mustahil menciptakan kesabaran dengan cara yang tidak sabar.
Mustahil meraih kebaikan dengan cara yang tidak baik.
Mustahil menegakkan kebenaran dengan cara yang tidak benar.
Mustahil mendapatkan harta yang halal dengan cara yang tidak halal.

Mustahil mendapatkan KECERDASANdengan cara yang TIDAK CERDAS, alias PANDIR.

HASIL AKHIR tergantung dari dua hal, NIAT dan CARA.
Lantai yang BERSIH didapatkan jika dan hanya jika dibersihkan dengan NIAT yang BERSIH dan CARA yang BERSIH pula.

HASIL yang BAIK didapatkan jika dan hanya jika ditempuh dengan NIAT yang BAIK dan CARA yang BAIK pula.

CERDASLAH,,,,itu lebih baik...!!!

Salam...
»»  READMORE...

Jumat, 17 Februari 2012

PENGECUT DAN KAMBING HITAM

oleh : paijo

Pengecut dan kambing hitam adalah pasangan paling serasi dan sepadan bak dua sejoli yang tak terpisahkan. Memang sudah ditakdirkan, di mana pengecut berada, di situ kambing hitam bermunculan. Mungkin karena bau si kambing memang kecut, atau mungkin juga pengecut tak ubahnya seperti kambing, tak bisa mengontrol mulut lalu menyelinap di hitamnya kegelapan malam, bersembunyi berlepas diri dari perbuatan. Apa salah si kambing sampai harus jadi korban, seseorang berbuat kesalahan, tapi tumbal harus dikorbankan, sudah nasib kambing, mau apa lagi ?
Pengecut sebenarnya tak punya keberanian, nyali ciut, kejantanan mempertahankan harga diripun tercabut, martabat hanyut, percuma hanya sesumbar di mulut, sebab begitu masalah datang, kakinya sontak surut, mundur teratur, diam- diam ke belakang meja sambil tak lupa melemparkan batu sembunyi tangan, kambing hitam di hadirkan untuk mengelabui khalayak, bahwa si pengecut bukan yang berbuat. Sungguh tak disangka, seseorang yang semula dengan gagah perkasa menampakkan diri di depan mata secara tiba- tiba berubah muka kecut begitu bahaya datang mengancam keberadaan dirinya.

Para pengecut memang kadang sulit ditebak, tapi yang pasti kentara adalah ketika masalah datang ia bergegas menghindar dengan segala cara, sementara harga diri sebagai manusia tak mudah untuk ditinggalkan begitu saja. Maka cara- cara kotorpun ditempuh, alih- alih mengenakan topeng menutupi kelemahan, keburukan, kesalahan dan kegagalan pekerjaannya, korban segera dicari sebagai tumbal, muncullah si kambing hitam.
Kambing hitam bisa ditemukan kapan saja, di mana saja dan berapa saja. Orang- orang kecil tak berdaya yang kebetulan terjebak dalam arena perseteruan selalu menjadi korban empuk, sasaran lemparan batu mereka yang berani berbuat tapi enggan bertanggung jawab. Bahkan bila si kambing tak juga ditemukan keluar biaya tak masalah, asal si hitam tumbal muncul untuk menyelamatkan muka. Segala cara, seberapapun harga, jika tidak maka nasib si pengecutpun bisa berakhir tragis, hilangnya martabat, harga diri atau boleh jadi berujung di penjara.
Jiwa pengecut adalah jiwa pengkhianat, mental jahat yang merusak kerukunan umat, sifat maksiat yang menggerogoti masyarakat, sebab dari pengecut inilah muncul fitnah sesat, menciderai amanat, meracuni harkat dan martabat sebagai manusia terhormat. Perpecahan, kecurigaan, permusuhan, benih- benih kehancuran tatanan kekeluargaan, kebersamaan dan persaudaraan. Apa yang disampaikan di depan, tak selaras dengan yang diungkapkan di belakang. Mencari aman, menghindari resiko. Mengejar kesuksesan, lari dari kegagalan. Penghargaan semu publik yang jadi ukuran dan tujuan, lalu rasa malu pun hilang. Enggan mengakui aib, bersegera cuci tangan, menggunting dalam lipatan, memancing ikan di air keruh, lempar batu sembunyi tangan, mencari kambing hitam.
Kepengecutan, ciut nyali, mental kerdil, sakit jiwa yang tidak disadari, salah satu bentuk pengkhianatan diri sendiri, sebab tak ada keselarasan antara hati, ucapan dan perbuatan. Kepengecutan adalah kemunafikan. Yang diperbuat tak selaras dengan yang diucap, yang diucap tak selaras dengan yang di hati, yang di hati tak selaras dengan yang diperbuat. Lain di bibir, lain di hati, lain pula di tangan. Urusan mereka tak teratur, tak tertata dan tak tersusun berirama. Simpang siur, tumpang tindih, acak- acakan, kepengecutan dan kemunafikan tak pernah memiliki kekuatan, tak lebih seperti kayu rapuh yang tersandar di dahan. Kambing hitam, korban perseteruan, tumbal pengkhianatan selalu berjatuhan ketika para pengecut berkeliaran di tengah- tengah kehidupan bermasyarakat.
Jangan biarkan kepengecutan menjangkit dan menjalar di dalam jiwa- jiwa kita. Jangan biarkan kambing hitam terus menjadi korban yang tak seharusnya. Berani berbuat harus berani bertanggung jawab. Kegagalan, kelemahan dan kesalahan memang mengecewakan, namun jika disikapi dengan kearifan dan kelapangan dada semua itu akan menjadi tangga pijakan menuju kesuksesan, kekuatan dan kesempurnaan.
»»  READMORE...

Kamis, 16 Februari 2012

BODOH, AWAM, PINTAR ATAU BIJAK ?

Ada sebuah perumpamaan menarik, melihat perbedaan manusia dalam kaitan dengan pengetahuan yang mempengaruhi sudut, cara dan wilayah pandang mereka terhadap kebenaran dalam kehidupan dunia.

Dalam posisi sudut pandang, wilayah pengetahuan orang bodoh berada dalam dimensi terkecil ( titik ), orang awam (sedikit ilmu ) berada dalam satu dimensi ( garis ), orang berilmu ( pintar ) berada dalam 2 dimensi (sisi ),sedang orang arif ( bijak ) berada dalam 3 dimensi (ruang ).

Sebuah kubus terbangun dari titik- titik ( pixel ) yang tergabung membentuk garis, lalu antar garis membentuk sisi dan akhirnya dari seluruh sisi berkumpul menyatu membentuk bangun berisi.


Dalam wilayah perjalanan meraih cahaya, orang bodoh tidak berjalan ke mana- mana, ia tetap berada dalam rumah yang berdinding rapat dan tertutup dari cahaya sehingga diliputi kegelapan, orang awam telah berkeliling di satu kota dengan sedikit cahaya, orang berilmu berkeliling di satu negara dengan banyak cahaya, sedang orang arif sudah berkeliling di seluruh dunia dengan berlimpah cahaya.
Maka tak perlu heran melihat perbedaan yang ada diantara mereka berdasar sudut, cara dan wilayah pandangan masing- masing. Potensi perbedaan dan perselisihan di dominasi kalangan orang bodoh, kalangan orang awam setingkat lebih sedikit, kalangan orang pintar paling sedikit dan di kalangan orang bijak mungkin boleh dikatakan tak ada.

Perjalanan terjauh di tempuh oleh kaum arif, orang- orang bijak, para salik dan musafir, mereka yang menghabiskan hidupnya untuk mencari kebenaran sejati, Tuhan, Sang kebenaran. Mereka mendaki dari tangga terendah sampai tertinggi, tahap demi tahap, dari kegelapan kebodohan sampai cahaya pengetahuan sejati.
Entah di mana saat ini kita berada, tapi menyadari keberadaan posisi itu sangat membantu untuk mencoba memahami kehidupan, mungkin bermain pasir pantai, berkecipak di tepian dangkal, berenang ke tengah lautan ataukah menyelam ke dasar terdalam, sedang dasar laut itu tiada batasnya..
»»  READMORE...

Jumat, 03 Februari 2012

JIKA KATA TIDAK BERMAKNA

Jika kata tidak bermakna, yang terbaca hanyalah rangkaian huruf abjad yang tertata tanpa nyawa dan terasa sangat hampa,

Jika kata tidak bermakna, maka kalimat hanyalah rangkaian panjang aksara dan tanda baca, seperti rangkaian gerbong tua tanpa kepala

Jika kata tidak bermakna, maka paragraf adalah rangkaian kalimat penuh dengan simbol simbol kebohongan bagaikan iklan kecap dipinggir jalan, mencari celah kebodohan,

Jika kata tidak bermakna, maka buku hanyalah tumpukan lembar kertas yang tersusun rapi, penuh gambar imajinasi, yang menambah berat isi tas sekolah, penghias meja para guru, pengisi almari besi para praktisi.

Jika kata tidak bermakna, maka galar dan jabatan hanyalah teori, berisi imajinasi tanpa pasti, menjadikan kedudukan bagaikan sebuah dasi hanya bertengger menghiasi leher berdaki, menutup baju tanpa peniti membuat orang lupa diri, bahwa kelak akan masuk peti pati, hingga hari ini, negeri dianggap milik sendiri, bekerja secara kolusi, memberi makan anak istri dengan jalan penuh korupsi.





»»  READMORE...

Sabtu, 21 Januari 2012

SUPLIER HASIL LAUT DAN TAMBAK


UD HASAN KETAPANG JAYA , Jumat malam 20 Januari 2012 pukul 24.00 melencurkan web yang bertajuk SUPLIER HASIL LAUT DAN TAMBAK dengan Url http://hasilaut.wordpress.com.
Usaha ini bergerak di bidang Perikanan dengan menawarkan BELANJA MURAH-TANPA MELANGKAH-BARANG SAMPAI RUMAH.

SELAMAT dan Suksen untuk UD HASAN KETAPANG JAYA


»»  READMORE...

Rabu, 18 Januari 2012

NUPTK KECAMATAN ULUJAMI

Untuk membantu teman 2 yang membutuhkan nuptk silahkan bisa down load di sini. Jika belum ada silahkan kirim nama sekolah dan alamat lengkap tulis pada komentar atau pesan. Insya Allah kami bantu selagi kami mampu. Gratis.
1. sdn 01 ambowetan klik di sini
2. sdn 03 pagergunung klik di sini
3. sdn 03 ketapang klik di sini


4. sdn 01 pagergunung klik di sini
5. sdn 03 limbangan klik di sini
6. sdn 03 mojo klik di sini
7. sdn 03 tasikrejo klik di sini
»»  READMORE...

Kamis, 12 Januari 2012

KISI-KISI UN SD/MI 2012

Badan Nasional Standar Pendidikan, melalui Peraturan BNSP Nomor 013/P/BNSP/XII/2011 menerbitkan Kisi-kisi UN SD/MI untuk Mata Pelajaran Bahasa Indonesia, Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam.

selengkapnya klik disini

»»  READMORE...

JADWAL UN - SD/MI TAHUN 2012

PERATURAN
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
NOMOR: 0012/P/BSNP/XII/2011
TENTANG
PROSEDUR OPERASI STANDAR UJIAN NASIONAL SEKOLAH DASAR,
MADRASAH IBTIDAIYAH, DAN SEKOLAH DASAR LUAR BIASA
TAHUN PELAJARAN 2011/2012



JADWAL UN SD/MI TAHUN PELAJARAN 2011-2012

1. UN terdiri atas UN dan UN Susulan.
2. UN Susulan hanya berlaku bagi peserta didik yang sakit atau
berhalangan dan dibuktikan dengan surat keterangan yang sah.
3. Jadwal pelaksanaan UN sebagai berikut:
Jadwal UN SD, MI, dan SDLB Tahun Pelajaran 2011/2012


»»  READMORE...

Kamis, 05 Januari 2012

FEODALISME GAYA BARU ?

ZAMAN KERAJAAN

Konon seorang Raja merupakan penguasa tunggal di suatu kerajaan. Jika seorang raja bersabda, maka tak satupun para punggawa, abdi dalem sampai rakyat yang berani menentang titah Sang Raja tersebut. Lepas apakah sabda tersebut benar untuk diri sendiri, orang banyak, ataupun benar untuk pribadi Sang Raja. Sehingga munculah Sabdo Pandito Ratu, apa yang menjadi titah raja tidak terbantahkanm bahkan titah Raja adalah "undang-undang"

Demikian pula terhadap perilaku Raja. Para abdi dalem. para punggawa jika mau menghadap Sang Rajapun harus berjalan mengendap endap, menyembah dan tidak akan bicara sebelum diperbolehkan bicara, {adahal hanya satu yang wajib kita sembah yakni Tuhan Yang Maha Esa. Tuhan yang menciptakan alam semesta beserta isinya ini, bukan orang yang hanya berlabel Raja.

Setiap kurun waktu tertentu, rakyat harus dengan sukarela dan ikhlas, mengusung upeti. Upeti sebagai tanda bekti dan tunduk kepada Raja. Jika Raja mau "tindak" ke suatu daerah maka para punggawa kerajaan telah mendahuluinya, untuk mempersaiapkan segala kebutuhan sang Raja. Dari gelaran untuk jalan, sampai dengan pakecohan yrmpat untuk ":meludah"sang Rajapun perlu dipersiapkan dengan sebaik-baiknya.

Raja yang seharusnya melayani, mengayomi dan mengatur rakyatnya, justru terbalik 180* dimana Rakyatlah yang melayani, mengayomi dan melindungi Sang Raja. Konon sikap, tingkah laku serta perbuatan pada zaman itu oleh orang orang sekarang menyebutnya Feodalisme.

Pertanyaanyya adalah apakah "feodalisme" hanya ada pada zaman kerajaan semata? Apakah masih berlaku pada era demokrasi sekarang ini ? Masihkah relevan jika feodalisme diterapkan pada zaman sekarang?

Pemimpin di era demokrasi.

Siapapun orangnya yang menjadi pemimpin/pejabat , ditingkat apa saja jabatantersebut, pada tataran jabatan apa saja dia meimpin pada era demokrasi ini mempunyai kewajiban yang berbanding terbalik dengan pemimpin pada zaman kerajaan. Bahkan beberapa undang-undang telah jelas menyebutkan TUGAS POKOK DAN FUNGSI Pemimpin/Pejabat Negara dalam sistem pemerintahan yang demokratis ini menyebutkan bahwa pemimpin/pejabat adalah abdi masyarakat dan abdi negara. Abdi berarti ,ELAYANI bukan DILAYANI.
Sebagai ilustrasi dalam dunia pendidikan. Guru adalah peimpin.pejabat yang memberikan pelayanan pendidikan bagi masyarakat pada jenjang pendidikan masing-masing. Di tataran ini Guru benar2 sebagai PELAYAN masyarakat dengan mendidik dan mengajar anak=anak mereka. Lalu siapakah yang melayani Guru? sudah semestinya yang melatani guru guru adalah pejabat yang merupakan pemimpin guru. Dari Kepala Sekolah, Kepala UPPK, sampai Kepala Dinasnya. Sudahkah kita hidup di alam demokrasi atau masih terkungkung dalam pola pikir feodalisme? Jawabnya ada pada hati nurani kita masing-masing.
»»  READMORE...

Minggu, 25 Desember 2011

AYO MEMBUAT WEBSITE / BLOG

PT. Bhakti Adikarya Buana Abadi ( PT Baba ) atau Baba Studio adalah Satu-satunya perusahaan multi nasional yang bergerak dalam bidang IT. yang menggabungkan IT Trainning Center dan IT Development.


Dengan produk unggulan
1. Training (Webmasterm, membuat animasi, PHP master , Internet marketing , Web designer)
2. Development Website (semua jenis Website, Games dan Animasi)
3. Media Pembelajaran Interaktif (Off line and Online Interaktif Learning )
4. Digital marketing (Internet Marketing dan CRM for Online storem Social media marketing)
5. Jasa Hosting dan Domain.

Maju bersama ribuan Trainner Reguler , Seminar, Workshop dan sejenisnya dan dibimbing oleh Master IT baik dalam maupun luar negeri semakin melebarkan sayapnya dalam memenuhi kebutuhan IT di setiap lini kehidupan bangsa dari kursus kursus regler, kursus online, seminar, whorkshop dll.
Ribuan member kami sangat homogen, dari wiraswasta, pelajar, mahasiswa, karyawan , pegawai negeri, dari lembaga pemerintah maupun swasta.


Jika anda ingin belajar membuat website sampai menjadi webmaster , atau ingin berbisnis
via internet sampai menjadi internet online makker, atau anda ingin membuat jaringan
internet bagi perusahaan anda m aka segeralah bergabung bersama kami di Baba Studio.

Khusus bagi anda yang bergabung sebelum 1 Januari 2012 akan kami berikan layanan khusus
berupa, buku-buku panduan yg dilengkapi cd /dvd, coffebreak, penggunaan internetm sms
gratis sepuasnya dari studio, dan grand prise freehostting selama 1 tahun untuk website
buatan anda sendiri dan kami ikutsertakan dalam lomba tahun ini.

Hubungi segera kami di www.babastudio.com
»»  READMORE...

Kamis, 22 Desember 2011

KEDAI SEKOLAH DASAR

Blog untuk berbagi Guru , Karyawan, Siswa serta orang tua murid.

Dalam blog ini memuat beberap hal tentang Sekolah Dasar baik yang berupa informaif maupun aksional.
»»  READMORE...

Sabtu, 17 Desember 2011

SAATNYA MELAWAN KORUPTOR

KPK WISHTLEBLOWER'S SYSTEM

Dalam menggalang peran serta masyarakat dalam memberantas tindak pidana KKN, KPK meluncurkan web site yang berlabel KPK WISHTLEBLOWER'S SYSTEM/ yang beralamat di http://kws.kpk.go.id

KPK WISHTLEBLOWER'S SYSTEM sendiri adalah suatu software khusu yang dirancang untuk melaporkan tindak pidana korupsi.

Di dalam laman KPK WISHTLEBLOWER'S SYSTEM tersebut memuat pula tatacara dan aturan main dalam MELAPORKAN tindak pidana KKN.

Guna menjaga keselamatan si Pelapor, maka software tersebut juga dilengkapi dengan petunjuk pengisian data pelapor yang sudah di setting agar hanya diri sendiri yang tahu,

Hal ini bertujuan menjaga privasi serta menghilangkan rasa ewuh pakewuh dan rasa ketakutan dari si pelapor.

Singkat kata silahkan anda buka http://kws.kpk.go.id/ pelajaridan pahami dulu dengan baik.

Pemberantasan korupsi tidak akan dapat efektif tanpa mrelibatkan peran masyarakat. Oleh karena itu mari kita satukan langkah dan tegak untuk memberantas tindak kejahatan KKN. Kalau tidak kita lalu siapa ? kalau tidak sekarang lalu kapan

»»  READMORE...

Rabu, 14 Desember 2011

Libur Semester 1 2011-2012

Semesteran sudah berlalu tanggal nunggu pembagian raport. Libur SEmester 1 Tahun Pelajaran 2011/2012 ini terasa istimewa. Istimewa karena bertepatan dengan akhir tahun 2011 atau menjelang tahun baru 2012. Sehingga tidak menutup kemungkinan libur semester gasal ini dirangkai dengan libur awal tahun baru 2012.

Libur Semseter 1 Tahun 2011-2012 akan berlangsung dari 19 Desember - 31 Desember 2011. Dengan kata lain
Libur Semseter 1 Tahun 2011-2012 akan berlangsung dari 19 Desember - 31 Desember 2011. Dengan kata lain kita libur satu tahun karena masuk semester 2 sudah ganti tahun yakni Januari 2012.

Lalu, mau apa di hari libur ini ?
Wah.. tidak usah bingung, banyak pilihan liburan yang dapat menyegarkan fikiran kita setelah 6 bulan berpacu dengan anak-anak dan waktu. Semua tergantung situasi dan kondisi kita masingpmasing.

Jika anda memilih waktu liburan ini untuk bepergian, banyak pilihan tempat yang sangat representatif untuk bersantai bersama keluarga, Menginap beberapa hari di obyek wisata, sangat bermanfaat untuk dapat melapaskan kepenatan dan kejenuhan rutinitas kita.

Sebut saja di Pemandian Air Hangat Gucci yg cukup romantis
atau di Dataran Tinggi Dieng


atau di seputar Candi Borobudur

atau di seputar Marioboro Jogja yang penuh kenangan

atau ke Danau Bedugul dan PAnati Sanur yang sangat romantis



Pendek kata suka-suka anda.

»»  READMORE...

Rabu, 07 Desember 2011

RPP BERKARAKTER KELAS IV SD


Jika anda membutuhkan RPP Berkarakter untuk jenjang Sekolah Dasar Kelas IV baik semester 1 maupun semester 2 dapat anda copas pada link di bawah ini.Guna mempermudah pencpyan RPP ini kami bagi berdasarkan mata pelajaran tiap semesternya.
Adapun link yg dapat dicopas adalah sbb :

( LINK : UNDERCONSTRUCTIONS )
RPP Berkarakter Kelas IV SD Semester 1:
# RPP PKn
# RPP Bahasa Indonesia
# RPP Matematika
# RPP IPA
# RPP IPS


RPP Berkarakter Kelas IV SD
Semester 2:
# RPP PKn
# RPP Bahasa Indonesia
# RPP Matematika
# RPP IPA
# RPP IPS

Selamat mengCOPAS dan jangan lupa tinggalkan komentar.
»»  READMORE...

Senin, 05 Desember 2011

RPP Tematik Kelas I SD


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Pembelajaran Tematik

Peserta didik yang berada pada sekolah dasar kelas satu, dua, dan tiga berada pada
rentangan usia dini. Pada usia tersebut seluruh aspek perkembangan kecerdasan seperti
IQ, EQ, dan SQ tumbuh dan berkembang sangat luar biasa. Pada umumnya tingkat
perkembangan masih melihat segala sesuatu sebagai satu keutuhan (holistik) serta mampu
memahami hubungan antara konsep secara sederhana. Proses pembelajaran masih
bergantung kepada objek-objek konkrit dan pengalaman yang dialami secara langsung.

Saat ini, pelaksanaan kegiatan pembelajaran di SD kelas I –III untuk setiap mata pelajaran
dilakukan secara terpisah, misalnya IPA 2 jam pelajaran, IPS 2 jam pelajaran, dan Bahasa
Indonesia 2 jam pelajaran. Dalam pelaksanaan kegiatannya dilakukan secara murni mata
pelajaran yaitu hanya mempelajari standar kompetensi dan kompetensi dasar yang
berhubungan dengan mata pelajaran itu. Sesuai dengan tahapan perkembangan anak yang
masih melihat segala sesuatu sebagai suatu keutuhan (holistic), pembelajaran yang
menyajikan mata pelajaran secara terpisah akan menyebabkan kurang mengembangkan
anak untuk berpikir holistik dan membuat kesulitan bagi peserta didik.

Selain itu, dengan pelaksanaan pembelajaran yang terpisah, muncul permasalahan pada
kelas rendah (I-III) antara lain adalah tingginya angka mengulang kelas dan putus sekolah.
Angka mengulang kelas dan angka putus sekolah peserta didik kelas I SD jauh lebih tinggi
dibandingkan dengan kelas yang lain. Data tahun 1999/2000 memperlihatkan bahwa angka
mengulang kelas satu sebesar 11,6% sementara pada kelas dua 7,51%, kelas tiga 6,13%,
kelas empat 4,64%, kelas lima 3,1%, dan kelas enam 0,37%. Pada tahun yang sama angka
putus sekolah kelas satu sebesar 4,22%, masih jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan
kelas dua 0,83%, kelas tiga 2,27%, kelas empat 2,71%, kelas lima 3,79%, dan kelas enam
1,78%.

Angka nasional tersebut semakin memprihatinkan jika dilihat dari data di masing-masing
propinsi terutama yang hanya memiliki sedikit taman Kanak-kanak. Hal itu terjadi terutama
di daerah terpencil. Pada saat ini hanya sedikit peserta didik kelas satu sekolah dasar yang
mengikuti pendidikan prasekolah sebelumnya. Tahun 1999/2000 tercatat hanya 12,61%
atau 1.583.467 peserta didik usia 4-6 tahun yang masuk Taman Kanak-kanak, dan kurang
dari 5 % Peserta didik berada pada pendidikan prasekolah lain.

Permasalahan tersebut menunjukkan bahwa kesiapan sekolah sebagian besar peserta didik
kelas awal sekolah dasar di Indonesia cukup rendah. Sementara itu, hasil penelitian
menunjukkan bahwa peserta didik yang telah masuk Taman Kanak-Kanak memiliki
kesiapan bersekolah lebih baik dibandingkan dengan peserta didik yang tidak mengikuti
pendidikan Taman Kanak-Kanak. Selain itu, perbedaan pendekatan, model, dan prinsipprinsip
pembelajaran antara kelas satu dan dua sekolah dasar dengan pendidikan prasekolah
dapat juga menyebabkan peserta didik yang telah mengikuti pendidikan pra-sekolah
pun dapat saja mengulang kelas atau bahkan putus sekolah.
Atas dasar pemikiran di atas dan dalam rangka implementasi Standar Isi yang termuat
dalam Standar Nasional Pendidikan, maka pembelajaran pada kelas awal sekolah dasar
yakni kelas satu, dua, dan tiga lebih sesuai jika dikelola dalam pembelajaran terpadu melalui
pendekatan pembelajaran tematik. Untuk memberikan gambaran tentang pembelajaran
tematik yang dapat menjadi acuan dan contoh konkret, disiapkan model pelaksanaan
pembelajaran tematik untuk SD/MI kelas I hingga kelas III.

B. Tujuan
Tujuan penyusunan dokumen model pengembangan silabus tematik pada kelas awal
Sekolah Dasar adalah sebagai berikut:
1. Memberikan pengetahuan dan wawasan tentang pembelajaran tematik.
2. Memberikan pemahaman kepada guru tentang pembelajaran tematik yang sesuai
dengan perkembangan peserta didik kelas awal Sekolah Dasar.
3. Memberikan keterampilan kepada guru dalam menyusun perencanaan, melaksanakan
dan melakukan penilaian dalam pembelajaran tematik.
4. Memberikan wawasan, pengetahuan dan pemahaman bagi pihak terkait, sehingga
diharapkan dapat memberikan dukungan terhadap kelancaran pelaksanaan
pembelajaran tematik

C. Ruang Lingkup
Ruang lingkup pengembangan pembelajaran tematik meliputi seluruh mata pelajaran pada
kelas I - III Sekolah Dasar, yaitu: Pendidikan Agama, Bahasa Indonesia, Matematika, Ilmu
Pengetahuan Alam, Pendidikan Kewarganegaraan, Ilmu Pengetahuan Sosial, Seni Budaya
dan Keterampilan, serta Pendidikan Jasmani,Olahraga dan Kesehatan.



BAB II
KERANGKA BERPIKIR

A. Karakteristik Perkembangan anak usia kelas awal SD
Anak yang berada di kelas awal SD adalah anak yang berada pada rentangan usia dini.
Masa usia dini ini merupakan masa yang pendek tetapi merupakan masa yang sangat
penting bagi kehidupan seseorang. Oleh karena itu, pada masa ini seluruh potensi yang
dimiliki anak perlu didorong sehingga akan berkembang secara optimal.

Karakteristik perkembangan anak pada kelas satu, dua dan tiga SD biasanya pertumbuhan
fisiknya telah mencapai kematangan, mereka telah mampu mengontrol tubuh dan
keseimbangannya. Mereka telah dapat melompat dengan kaki secara bergantian, dapat
mengendarai sepeda roda dua, dapat menangkap bola dan telah berkembang koordinasi
tangan dan mata untuk dapat memegang pensil maupun memegang gunting. Selain itu,
perkembangan sosial anak yang berada pada usia kelas awal SD antara lain mereka telah
dapat menunjukkan keakuannya tentang jenis kelaminnya, telah mulai berkompetisi dengan
teman sebaya, mempunyai sahabat, telah mampu berbagi, dan mandiri.

Perkembangan emosi anak usia 6-8 tahun antara lain anak telah dapat mengekspresikan
reaksi terhadap orang lain, telah dapat mengontrol emosi, sudah mampu berpisah dengan
orang tua dan telah mulai belajar tentang benar dan salah. Untuk perkembangan
kecerdasannya anak usia kelas awal SD ditunjukkan dengan kemampuannya dalam
melakukan seriasi, mengelompokkan obyek, berminat terhadap angka dan tulisan,
meningkatnya perbendaharaan kata, senang berbicara, memahami sebab akibat dan
berkembangnya pemahaman terhadap ruang dan waktu.

B. Cara Anak Belajar
Piaget (1950) menyatakan bahwa setiap anak memiliki cara tersendiri dalam
menginterpretasikan dan beradaptasi dengan lingkungannya (teori perkembangan kognitif).
Menurutnya, setiap anak memiliki struktur kognitif yang disebut schemata yaitu sistem
konsep yang ada dalam pikiran sebagai hasil pemahaman terhadap objek yang ada dalam
lingkungannya. Pemahaman tentang objek tersebut berlangsung melalui proses asimilasi
(menghubungkan objek dengan konsep yang sudah ada dalam pikiran) dan akomodasi
(proses memanfaatkan konsep-konsep dalam pikiran untuk menafsirkan objek). Kedua
proses tersebut jika berlangsung terus menerus akan membuat pengetahuan lama dan
pengetahuan baru menjadi seimbang. Dengan cara seperti itu secara bertahap anak dapat
membangun pengetahuan melalui interaksi dengan lingkungannya. Berdasarkan hal
tersebut, maka perilaku belajar anak sangat dipengaruhi oleh aspek-aspek dari dalam
dirinya dan lingkungannya. Kedua hal tersebut tidak mungkin dipisahkan karena memang
proses belajar terjadi dalam konteks interaksi diri anak dengan lingkungannya.
Anak usia sekolah dasar berada pada tahapan operasi konkret. Pada rentang usia tersebut
anak mulai menunjukkan perilaku belajar sebagai berikut: (1) Mulai memandang dunia
secara objektif, bergeser dari satu aspek situasi ke aspek lain secara reflektif dan
memandang unsur-unsur secara serentak, (2) Mulai berpikir secara operasional, (3)
Mempergunakan cara berpikir operasional untuk mengklasifikasikan benda-benda, (4)
Membentuk dan mempergunakan keterhubungan aturan-aturan, prinsip ilmiah sederhana,
dan mempergunakan hubungan sebab akibat, dan (5) Memahami konsep substansi, volume
zat cair, panjang, lebar, luas, dan berat.
Memperhatikan tahapan perkembangan berpikir tersebut, kecenderungan belajar anak usia
sekolah dasar memiliki tiga ciri, yaitu:

1. Konkrit
Konkrit mengandung makna proses belajar beranjak dari hal-hal yang konkrit yakni yang
dapat dilihat, didengar, dibaui, diraba, dan diotak atik, dengan titik penekanan pada
pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar. Pemanfaatan lingkungan akan
menghasilkan proses dan hasil belajar yang lebih bermakna dan bernilai, sebab siswa
dihadapkan dengan peristiwa dan keadaan yang sebenarnya, keadaan yang alami,
sehingga lebih nyata, lebih faktual, lebih bermakna, dan kebenarannya lebih dapat
dipertanggungjawabkan.

2. Integratif
Pada tahap usia sekolah dasar anak memandang sesuatu yang dipelajari sebagai suatu
keutuhan, mereka belum mampu memilah-milah konsep dari berbagai disiplin ilmu, hal ini
melukiskan cara berpikir anak yang deduktif yakni dari hal umum ke bagian demi bagian.


3. Hierarkis
Pada tahapan usia sekolah dasar, cara anak belajar berkembang secara bertahap mulai dari
hal-hal yang sederhana ke hal-hal yang lebih kompleks. Sehubungan dengan hal tersebut,
maka perlu diperhatikan mengenai urutan logis, keterkaitan antar materi, dan cakupan
keluasan serta kedalaman materi .

C. Belajar dan Pembelajaran Bermakna
Belajar pada hakekatnya merupakan proses perubahan di dalam kepribadian yang berupa
kecakapan, sikap, kebiasaan, dan kepandaian. Perubahan ini bersifat menetap dalam
tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman.

Pembelajaran pada hakekatnya adalah suatu proses interaksi antar anak dengan anak,
anak dengan sumber belajar dan anak dengan pendidik. Kegiatan pembelajaran ini akan
menjadi bermakna bagi anak jika dilakukan dalam lingkungan yang nyaman dan
memberikan rasa aman bagi anak. Proses belajar bersifat individual dan kontekstual, artinya
proses belajar terjadi dalam diri individu sesuai dengan perkembangannya dan
lingkungannya.

Belajar bermakna (meaningfull learning) merupakan suatu proses dikaitkannya informasi
baru pada konsep-konsep relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang.
Kebermaknaan belajar sebagai hasil dari peristiwa mengajar ditandai oleh terjadinya
hubungan antara aspek-aspek, konsep-konsep, informasi atau situasi baru dengan
komponen-komponen yang relevan di dalam struktur kognitif siswa. Proses belajar tidak
sekadar menghafal konsep-konsep atau fakta-fakta belaka, tetapi merupakan kegiatan
menghubungkan konsep-konsep untuk menghasilkan pemahaman yang utuh, sehingga
konsep yang dipelajari akan dipahami secara baik dan tidak mudah dilupakan. Dengan
demikian, agar terjadi belajar bermakna maka guru harus selalu berusaha mengetahui dan
menggali konsep-konsep yang telah dimiliki siswa dan membantu memadukannya secara
harmonis konsep-konsep tersebut dengan pengetahuan baru yang akan diajarkan.

Dengan kata lain, belajar akan lebih bermakna jika anak mengalami langsung apa yang
dipelajarinya dengan mengaktifkan lebih banyak indera daripada hanya mendengarkan
orang/guru menjelaskan.

D. Pengertian Pembelajaran Tematik
Sesuai dengan tahapan perkembangan anak, karakteristik cara anak belajar, konsep
belajar dan pembelajaran bermakna, maka kegiatan pembelajaran bagi anak kelas awl SD
sebaiknya dilakukan dengan Pembelajaran tematik. Pembelajaan tematik adalah

pembelajaran tepadu yang menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran
sehingga dapat memberikan pengalaman bermakna kepada siswa. Tema adalah pokok
pikiran atau gagasan pokok yang menjadi pokok pembicaraan (Poerwadarminta, 1983).
Dengan tema diharapkan akan memberikan banyak keuntungan, di antaranya:
1) Siswa mudah memusatkan perhatian pada suatu tema tertentu,
2) Siswa mampu mempelajari pengetahuan dan mengembangkan berbagai kompetensi dasar antar matapelajaran dalam tema yang sama;
3) pemahaman terhadap materi pelajaran lebih mendalam dan berkesan;
4) kompetensi dasar dapat dikembangkan lebih baik dengan mengkaitkan matapelajaran lain dengan pengalaman pribadi siswa;
5) Siswa mampu lebih merasakan manfaat dan makna belajar karena materi disajikan dalam konteks tema yang jelas;
6) Siswa lebih bergairah belajar karena dapat berkomunikasi dalam situasi nyata, untuk mengembangkan suatu kemampuan dalam satu mata pelajaran sekaligus mempelajari matapelajaran lain;
7) guru dapat menghemat waktu karena mata pelajaran yang disajikan secara tematik dapat dipersiapkaan sekaligus dan diberikan dalam dua atau tiga pertemuan, waktu selebihnya dapat digunakan untuk kegiatan remedial, pemantapan, atau pengayaan.

E. Landasan Pembelajaran Tematik
Landasan Pembelajaran tematik mencakup:
Landasan filosofis dalam pembelajaran tematik sangat dipengaruhi oleh tiga aliran filsafat
yaitu: (1) progresivisme, (2) konstruktivisme, dan (3) humanisme. Aliran progresivisme
memandang proses pembelajaran perlu ditekankan pada pembentukan kreatifitas,
pemberian sejumlah kegiatan, suasana yang alamiah (natural), dan memperhatikan
pengalaman siswa. Aliran konstruktivisme melihat pengalaman langsung siswa (direct
experiences) sebagai kunci dalam pembelajaran. Menurut aliran ini, pengetahuan adalah
hasil konstruksi atau bentukan manusia. Manusia mengkonstruksi pengetahuannya melalui
interaksi dengan obyek, fenomena, pengalaman dan lingkungannya. Pengetahuan tidak
dapat ditransfer begitu saja dari seorang guru kepada anak, tetapi harus diinterpretasikan
sendiri oleh masing-masing siswa. Pengetahuan bukan sesuatu yang sudah jadi, melainkan
suatu proses yang berkembang terus menerus. Keaktifan siswa yang diwujudkan oleh rasa
ingin tahunya sangat berperan dalam perkembangan pengetahuannya. Aliran humanisme
melihat siswa dari segi keunikan/kekhasannya, potensinya, dan motivasi yang dimilikinya.

Landasan psikologis dalam pembelajaran tematik terutama berkaitan dengan psikologi
perkembangan peserta didik dan psikologi belajar. Psikologi perkembangan diperlukan
terutama dalam menentukan isi/materi pembelajaran tematik yang diberikan kepada siswa
agar tingkat keluasan dan kedalamannya sesuai dengan tahap perkembangan peserta didik.
Psikologi belajar memberikan kontribusi dalam hal bagaimana isi/materi pembelajaran
tematik tersebut disampaikan kepada siswa dan bagaimana pula siswa harus
mempelajarinya.

Landasan yuridis dalam pembelajaran tematik berkaitan dengan berbagai kebijakan atau
peraturan yang mendukung pelaksanaan pembelajaran tematik di sekolah dasar. Landasan
yuridis tersebut adalah UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak yang
menyatakan bahwa setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam
rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasannya sesuai dengan minat dan
bakatnya (pasal 9). UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
menyatakan bahwa setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak
mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuannya (Bab
V Pasal 1-b).

F. Arti Penting Pembelajaran Tematik
Pembelajaran tematik lebih menekankan pada keterlibatan siswa dalam proses belajar
secara aktif dalam proses pembelajaran, sehingga siswa dapat memperoleh pengalaman
langsung dan terlatih untuk dapat menemukan sendiri berbagai pengetahuan yang
dipelajarinya. Melalui pengalaman langsung siswa akan memahami konsep-konsep yang
mereka pelajari dan menghubungkannya dengan konsep lain yang telah dipahaminya. Teori
pembelajaran ini dimotori para tokoh Psikologi Gestalt, termasuk Piaget yang menekankan
bahwa pembelajaran haruslah bermakna dan berorientasi pada kebutuhan dan
perkembangan anak.

Pembelajaran tematik lebih menekankan pada penerapan konsep belajar sambil melakukan
sesuatu (learning by doing). Oleh karena itu, guru perlu mengemas atau merancang
pengalaman belajar yang akan mempengaruhi kebermaknaan belajar siswa. Pengalaman
belajar yang menunjukkan kaitan unsur-unsur konseptual menjadikan proses pembelajaran
lebih efektif. Kaitan konseptual antar mata pelajaran yang dipelajari akan membentuk
skema, sehingga siswa akan memperoleh keutuhan dan kebulatan pengetahuan. Selain itu,
dengan penerapan pembelajaran tematik di sekolah dasar akan sangat membantu siswa,
karena sesuai dengan tahap perkembangannya siswa yang masih melihat segala sesuatu
sebagai satu keutuhan (holistik).

Beberapa ciri khas dari pembelajaran tematik antara lain: 1) Pengalaman dan kegiatan
belajar sangat relevan dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan anak usia sekolah
dasar; 2) Kegiatan-kegiatan yang dipilih dalam pelaksanaan pembelajaran tematik bertolak
dari minat dan kebutuhan siswa; 3) Kegiatan belajar akan lebih bermakna dan berkesan
bagi siswa sehingga hasil belajar dapat bertahan lebih lama; 4) Membantu mengembangkan
keterampilan berpikir siswa; 5) Menyajikan kegiatan belajar yang bersifat pragmatis sesuai
dengan permasalahan yang sering ditemui siswa dalam lingkungannya; dan 6)
Mengembangkan keterampilan sosial siswa, seperti kerjasama, toleransi, komunikasi, dan
tanggap terhadap gagasan orang lain.

Dengan pelaksanaan pembelajaran dengan memanfaatkan tema ini, akan diperoleh
beberapa manfaat yaitu: 1) Dengan menggabungkan beberapa kompetensi dasar dan
indikator serta isi mata pelajaran akan terjadi penghematan, karena tumpang tindih materi
dapat dikurangi bahkan dihilangkan, 2) Siswa mampu melihat hubungan-hubungan yang
bermakna sebab isi/materi pembelajaran lebih berperan sebagai sarana atau alat, bukan
tujuan akhir, 3) Pembelajaran menjadi utuh sehingga siswa akan mendapat pengertian
mengenai proses dan materi yang tidak terpecah-pecah. 4) Dengan adanya pemaduan
antar mata pelajaran maka penguasaan konsep akan semakin baik dan meningkat,

G. Karakteristik Pembelajaran Tematik
Sebagai suatu model pembelajaran di sekolah dasar, pembelajaran tematik memiliki
karakteristik-karakteristik sebagai berikut:
1. Berpusat pada siswa
Pembelajaran tematik berpusat pada siswa (student centered), hal ini sesuai dengan
pendekatan belajar modern yang lebih banyak menempatkan siswa sebagai subjek
belajar sedangkan guru lebih banyak berperan sebagai fasilitator yaitu memberikan
kemudahan-kemudahan kepada siswa untuk melakukan aktivitas belajar.
2. Memberikan pengalaman langsung
Pembelajaran tematik dapat memberikan pengalaman langsung kepada siswa (direct
experiences). Dengan pengalaman langsung ini, siswa dihadapkan pada sesuatu yang
nyata (konkrit) sebagai dasar untuk memahami hal-hal yang lebih abstrak.
3. Pemisahan matapelajaran tidak begitu jelas
Dalam pembelajaran tematik pemisahan antar mata pelajaran menjadi tidak begitu jelas.
Fokus pembelajaran diarahkan kepada pembahasan tema-tema yang paling dekat
berkaitan dengan kehidupan siswa.
4. Menyajikan konsep dari berbagai matapelajaran
Pembelajaran tematik menyajikan konsep-konsep dari berbagai mata pelajaran dalam
suatu proses pembelajaran. Dengan demikian, Siswa mampu memahami konsepkonsep
tersebut secara utuh. Hal ini diperlukan untuk membantu siswa dalam
memecahkan masalah-masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari.
5. Bersifat fleksibel
Pembelajaran tematik bersifat luwes (fleksibel) dimana guru dapat mengaitkan bahan
ajar dari satu mata pelajaran dengan mata pelajaran yang lainnya, bahkan
mengaitkannya dengan kehidupan siswa dan keadaan lingkungan dimana sekolah dan
siswa berada.
6. Hasil pembelajaran sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa
Siswa diberi kesempatan untuk mengoptimalkan potensi yang dimilikinya sesuai dengan
minat dan kebutuhannya.
7. Menggunakan prinsip belajar sambil bermain dan menyenangkan

H. RAMBU-RAMBU
1. Tidak semua mata pelajaran harus dipadukan
2. Dimungkinkan terjadi penggabungan kompetensi dasar lintas semester
3. Kompetensi dasar yang tidak dapat dipadukan, jangan dipaksakan untuk dipadukan.
Kompetensi dasar yang tidak diintegrasikan dibelajarkan secara tersendiri.
4. Kompetensi dasar yang tidak tercakup pada tema tertentu harus tetap diajarkan baik
melalui tema lain maupun disajikan secara tersendiri.
5. Kegiatan pembelajaran ditekankan pada kemampuan membaca, menulis, dan berhitung
serta penanaman nilai-nilai moral
6. Tema-tema yang dipilih disesuaikan dengan karakteristik siswa, minat, lingkungan, dan
daerah setempat


BAB III
IMPLIKASI PEMBELAJARAN TEMATIK

Dalam implementasi pembelajaran tematik di sekolah dasar mempunyai berbagai implikasi
yang mencakup:

A. Implikasi bagi guru
Pembelajaran tematik memerlukan guru yang kreatif baik dalam menyiapkan
kegiatan/pengalaman belajar bagi anak, juga dalam memilih kompetensi dari berbagai
mata pelajaran dan mengaturnya agar pembelajaran menjadi lebih bermakna, menarik,
menyenangkan dan utuh.
B. Implikasi bagi siswa
1. Siswa harus siap mengikuti kegiatan pembelajaran yang dalam pelaksanaannya
dimungkinkan untuk bekerja baik secara individual, pasangan, kelompok kecil
ataupun klasikal.
2. Siswa harus siap mengikuti kegiatan pembelajaran yang bervariasi secara aktif
misalnya melakukan diskusi kelompok, mengadakan penelitian sederhana, dan
pemecahan masalah

C. Implikasi terhadap sarana, prasarana, sumber belajar dan media
1. Pembelajaran tematik pada hakekatnya menekankan pada siswa baik secara
individual maupun kelompok untuk aktif mencari, menggali dan menemukan konsep
serta prinsip-prinsip secara holistik dan otentik. Oleh karena itu, dalam
pelaksanaannya memerlukan berbagai sarana dan prasarana belajar.
2. Pembelajaran ini perlu memanfaatkan berbagai sumber belajar baik yang sifatnya
didisain secara khusus untuk keperluan pelaksanaan pembelajaran (by design),
maupun sumber belajar yang tersedia di lingkungan yang dapat dimanfaatkan (by
utilization).
3. Pembelajaran ini juga perlu mengoptimalkan penggunaan media pembelajaran yang
bervariasi sehingga akan membantu siswa dalam memahami konsep-konsep yang
abstrak.
4. Penerapan pembelajaran tematik di sekolah dasar masih dapat menggunakan buku
ajar yang sudah ada saat ini untuk masing-masing mata pelajaran dan dimungkinkan
pula untuk menggunakan buku suplemen khusus yang memuat bahan ajar yang
terintegrasi

D. Implikasi terhadap Pengaturan ruangan
Dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran tematik perlu melakukan pengaturan ruang
agar suasana belajar menyenangkan. Pengaturan ruang tersebut meliputi:
• Ruang perlu ditata disesuaikan dengan tema yang sedang dilaksanakan.Susunan bangku peserta didik dapat berubah-ubah disesuaikan dengan keperluan
• pembelajaran yang sedang berlangsung Peserta didik tidak selalu duduk di kursi tetapi dapat duduk di tikar/karpet Kegiatan hendaknya bervariasi dan dapat dilaksanakan baik di dalam kelas maupun di luar kelas
• Dinding kelas dapat dimanfaatkan untuk memajang hasil karya peserta didik dan dimanfaatkan sebagai sumber belajar
• Alat, sarana dan sumber belajar hendaknya dikelola sehingga memudahkan peserta didik untuk menggunakan dan menyimpannya kembali.

E. Implikasi terhadap Pemilihan metode
Sesuai dengan karakteristik pembelajaran tematik, maka dalam pembelajaran yang
dilakukan perlu disiapkan berbagai variasi kegiatan dengan menggunakan multi metode.
Misalnya percobaan, bermain peran, tanya jawab, demonstrasi, bercakap-cakap.


BAB IV
TAHAP PERSIAPAN PELAKSANAAN

Dalam pelaksanaan pembelajaran tematik, perlu dilakukan beberapa hal yang meliputi tahap
perencanaan yang mencakup kegiatan pemetaan kompetensi dasar, pengembangan
jaringan tema, pengembangan silabus dan penyusunan rencana pelaksanaan
pembelajaran.

A. Pemetaan Kompetensi Dasar
Kegiatan pemetaan ini dilakukan untuk memperoleh gambaran secara menyeluruh dan
utuh semua standar kompetensi, kompetensi dasar dan indikator dari berbagai mata
pelajaran yang dipadukan dalam tema yang dipilih. Kegiatan yang dilakukan adalah:

1. Penjabaran Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar ke dalam indikator
Melakukan kegiatan penjabaran standar kompetensi dan kompetensi dasar dari
setiap mata pelajaran ke dalam indikator. Dalam mengembangkan indikator perlu
memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
• Indikator dikembangkan sesuai dengan karakteristik peserta didik
• Indikator dikembangkan sesuai dengan karakteristik mata pelajaran
• Dirumuskan dalam kata kerja oprasional yang terukur dan/atau dapat diamati

2. Menentukan tema
a. cara penentuan tema
Dalam menentukan tema dapat dilakukan dengan dua cara yakni:

Cara pertama, mempelajari standar kompetensi dan kompetensi dasar yang
terdapat dalam masing-masing mata pelajaran, dilanjutkan dengan menentukan
tema yang sesuai.

Cara kedua, menetapkan terlebih dahulu tema-tema pengikat keterpaduan,
untuk menentukan tema tersebut, guru dapat bekerjasama dengan peserta didik
sehingga sesuai dengan minat dan kebutuhan anak.

b. Prinsip Penentuan tema
Dalam menetapkan tema perlu memperhatikan beberapa prinsip yaitu:
• Memperhatikan lingkungan yang terdekat dengan siswa:
• Dari yang termudah menuju yang sulit
• Dari yang sederhana menuju yang kompleks
• Dari yang konkret menuju ke yang abstrak.
• Tema yang dipilih harus memungkinkan terjadinya proses berpikir pada diri siswa
• Ruang lingkup tema disesuaikan dengan usia dan perkembangan siswa,termasuk minat, kebutuhan, dan kemampuannya

3. Identifikasi dan analisis Standar Kompetensi, Kompetensi dasar dan Indikator
Lakukan identifikasi dan analisis untuk setiap Standar Kompetensi, Kompetensi
Dasar dan indikator yang cocok untuk setiap tema sehingga semua standar
kompetensi, kompetensi dasar dan indikator terbagi habis.
B. Menetapkan Jaringan Tema
Buatlah jaringan tema yaitu menghubungkan kompetensi dasar dan indikator dengan
tema pemersatu. Dengan jaringan tema tersebut akan terlihat kaitan antara tema,
kompetensi dasar dan indikator dari setiap mata pelajaran. Jaringan tema ini dapat
dikembangkan sesuai dengan alokasi waktu setiap tema.

C. Penyusunan Silabus
Hasil seluruh proses yang telah dilakukan pada tahap-tahap sebelumnya dijadikan dasar
dalam penyusunan silabus. Komponen silabus terdiri dari standar kompetensi,
kompetensi dasar, indikator, pengalaman belajar, alat/sumber, dan penilaian.

D. Penyusunan Rencana Pembelajaran
Untuk keperluan pelaksanaan pembelajaran guru perlu menyusun rencana pelaksanaan
pembelajaran. Rencana pembelajaran ini merupakan realisasi dari pengalaman belajar
siswa yang telah ditetapkan dalam silabus pembelajaran. Komponen rencana
pembelajaran tematik meliputi:
1. Identitas mata pelajaran (nama mata pelajaran yang akan dipadukan, kelas,semester, dan waktu/banyaknya jam pertemuan yang dialokasikan).
2. Kompetensi dasar dan indikator yang akan dilaksanakan.
3. Materi pokok beserta uraiannya yang perlu dipelajari siswa dalam rangka mencapai kompetensi dasar dan indikator.
4. Strategi pembelajaran (kegiatan pembelajaran secara konkret yang harus dilakukan siswa dalam berinteraksi dengan materi pembelajaran dan sumber belajar untuk menguasai kompetensi dasar dan indikator, kegiatan ini tertuang dalam kegiatan pembukaan, inti dan penutup).
5. Alat dan media yang digunakan untuk memperlancar pencapaian kompetensi dasar,serta sumber bahan yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran tematik sesuai dengan kompetensi dasar yang harus dikuasai.
6. Penilaian dan tindak lanjut (prosedur dan instrumen yang akan digunakan untuk menilai pencapaian belajar peserta didik serta tindak lanjut hasil penilaian).


BAB V
TAHAP PELAKSANAAN

1. Tahapan kegiatan
Pelaksanaan pembelajaran tematik setiap hari dilakukan dengan menggunakan tiga
tahapan kegiatan yaitu kegiatan pembukaan/awal/pendahuluan, kegiatan inti, dan
kegiatan penutup. Alokasi waktu untuk setiap tahapan adalah kegiatan pembukaan
kurang lebih satu jam pelajaran (1 x 35 menit), kegiatan inti 3 jam pelajaran (3 x 35
menit) dan kegiatan penutup satu jam pelajaran (1 x 35 menit)

a. Kegiatan Pendahuluan/awal/pembukaan
Kegiatan ini dilakukan terutama untuk menciptakan suasana awal pembelajaran
untuk mendorong siswa menfokuskan dirinya agar mampu mengikuti proses
pembelajaran dengan baik.
Sifat dari kegiatan pembukaan adalah kegiatan untuk pemanasan. Pada tahap ini
dapat dilakukan penggalian terhadap pengalaman anak tentang tema yang akan
disajikan. Beberapa contoh kegiatan yang dapat dilakukan adalah bercerita, kegiatan
fisik/jasmani, dan menyanyi

b. Kegiatan Inti
Dalam kegiatan inti difokuskan pada kegiatan-kegiatan yang bertujuan untuk
pengembangan kemampuan baca, tulis dan hitung. Penyajian bahan pembelajaran
dilakukan dengan menggunakan berbagai strategi/metode yang bervariasi dan
dapat dilakukan secara klasikal, kelompok kecil, ataupun perorangan.

c. Kegiatan Penutup/Akhir dan Tindak Lanjut
Sifat dari kegiatan penutup adalah untuk menenangkan. Beberapa contoh kegiatan
akhir/penutup yang dapat dilakukan adalah menyimpulkan/mengungkapkan hasil
pembelajaran yang telah dilakukan, mendongeng, membacakan cerita dari buku,
pantomim, pesan-pesan moral, musik/apresiasi musik.
Contoh jadwal pelaksanaan pembelajaran perhari dapat dijabarkan menjadi:

Contoh 1:
Kegiatan Jenis kegiatan
Kegiatan pembukaan Anak berkumpul bernyanyi sambil menari mengikluti irama musik
Kegiatan inti • Kegiatan untuk pengembangan membaca
• Kegiatan untuk pengembangan menulis
• Kegitan untuk pengembangan berhitung
Kegiatan penutup Mendongeng atau membaca cerita dari buku cerita






Contoh 2:
Kegiatan Jenis kegiatan
Kegiatan pembukaan Waktu berkumpul (anak m,enceritakan pengalkaman,
menyanyi, melakukan kegiatan fisik sesuai dengan tema)
Kegiatan inti  Pengembnagan kemmapuan menulis (kegiatan kelompok besar)
 Pengembnagan kemampuan berhitung kegiatan kelompok kecil atau berpasangan)
 Melakukan pengamatan sesuai dengan tema, misalnya mengamati jenis kendaraan yang lewat pada tema transporasi, menggambar hewan hasil pengamatan
Kegiatan penutup  Mendongeng
 Pesan-pesan moral
 Musik/menyanyi

2. Pengaturan Jadwal pelajaran
Untuk memudahkan administrasi sekolah terutama dalam penjadwalan. Guru bersama
dengan guru mata pelajaran pendidikan agama, guru pendidikan Jasmani dan guru
muatan lokal perlu bersama-sama menyusun Jadwal pelajaran. Contoh jadwal yang
dapat dikembangkan adalah:

Waktu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu
7-7.35 Matematika B. Indo Mat BI Penjaskes IPA
7.35-8.10 Matematika B. Indo Mat BI penjaskes IPA
8.10-8.45 Matematika B. Indo Mat KTK P. Agama mulok
8.45-9.00 Istirahat
9.00-9.35 B. Ind Mat IPS KTK P. Agama mulok
9.35-10.10 B. Ind Mat IPS KTK


BAB VI
PENILAIAN

A. Pengertian
Penilaian dalam pembelajaran tematik adalah suatu usaha untuk mendapatkan berbagai
informasi secara berkala, berkesinambungan, dan menyeluruh tentang proses dan hasil dari
pertumbuhan dan perkembangan yang telah dicapai oleh anak didik melalui program
kegiatan belajar.

B. Tujuan
Tujuan Penilaian pembelajaran tematik adalah:
1. Mengetahui percapaian indikator yang telah ditetapkan
2. Memperoleh umpan balik bagi guru, untuk pengetahui hambatan yang terjadi dalam pembelajaran maupun efektivitas pembelajaran
3. Memperoleh gambaran yang jelas tentang perkembangan pengetahuan, keterampilan dan sikap siswa
4. Sebagai acuan dalam menentukan rencana tindak lanjut (remedial, pengayaan, dan pemantapan).

C. Prinsip
1. Penilaian di kelas I dan II mengikuti aturan penilaian mata-mata pelajaran lain di sekolah dasar. Mengingat bahwa siswa kelas I SD belum semuanya lancar membaca dan menulis, maka cara penilaian di kelas I tidak ditekankan pada penilaian secara tertulis.
2. Kemampuan membaca, menulis dan berhitung merupakan kemampuan yang harus dikuasai oleh peserta didik kelas I dan II. Oleh karena itu, penguasaan terhadap ke tiga kemampuan tersebut adalah prasyarat untuk kenaikan kelas.
3. Penilaian dilakukan dengan mengacu pada indikator dari masing-masing Kompetensi Dasar dan Hasil Belajar dari mata-mata pelajaran.
4. Penilaian dilakukan secara terus menerus dan selama proses belajar mengajar berlangsung, misalnya sewaktu siswa bercerita pada kegiatan awal, membaca pada kegiatan inti dan menyanyi pada kegiatan akhir.
5. Hasil karya/kerja siswa dapat digunakan sebagai bahan masukan guru dalam mengambil keputusan siswa misalnya: Penggunaan tanda baca, ejaan kata, maupun angka.

D. Alat Penilaian
Alat penilaian dapat berupa Tes dan Non Tes. Tes mencakup: tertulis, lisan, atau perbuatan,
catatan harian perkembangan siswa, dan porto folio. Dalam kegiatan pembelajaran di kelas
awal penilaian yang lebih banyak digunakan adalah melalui pemberian tugas dan portofolio.
Guru menilai anak melalui pengamatan yang lalu dicatat pada sebuiah buku bantu.
Sedangkan Tes tertulis digunakan untuk menilai kemampuan menulis siswa, khususnya
untuk mengetahui tentang penggunaan tanda baca, Jean, kata atau angka

Berikut adalah contoh penilaian yang dapat dilakukan guru:
A. Kewarganegaraan dan Pengetahuan Sosial : Tes Lisan
 Menyebutkan peristiwa/kegiatan yang dialami
 Mengemukakan peristiwa/kegiatan yang berkesan
 Mengekspresikan perasaan waktu memberi kesan.
B. Bahasa Indonesia : Perbuatan
• Kelancaran membaca
• Melafalkan kata
• Melagukan/intonasi
• Cara bertanya jawab

Tugas
• Melengkapi kalimat
C. Ilmu Pengetahuan Alam : Perbuatan
• Mendemonstrasikan cara menggosok gigi

: Lisan
• Menyebutkan cara memelihara gigi
• Menjelaskan manfaat menggosok gigi

E. Aspek Penilaian
Pada pembelajaran tematik penilaian dilakukan untuk mengkaji ketercapaian Kompetensi
Dasar dan Indikator pada tiap-tiap mata pelajaran yang terdapat pada tema tersebut.
Dengan demikian penilaian dalam hal ini tidak lagi terpadu melalui tema, melainkan sudah
terpisah-pisah sesuai dengan Kompetensi Dasar, Hasil Belajar dan Indikator mata
pelajaran.

Nilai akhir pada laporan (raport) dikembalikan pada kompetensi mata pelajaran yang
terdapat pada kelas satu dan dua Sekolah Dasar, yaitu: Bahasa Indonesia, Matematika,
Ilmu Pengetahuan Alam, Pendidikan Kewarganegaraan dan Ilmu Pengetahuan Sosial, Seni
Budaya dan Keterampilan, dan Pendidikan Jasmani, Olahraga dan kesehatan.

PENUTUP
Pedoman ini merupakan acuan minimal, sehingga sekolah dan guru dapat mengembangan
sendiri sesuai dengan kondisi masing-masing.

Contoh RPP Tematik Kelas I dapat dicopas di sini
Contoh RPP Tematik Kelas II dapat dicopas di sini
Contoh RPP Tematik Kelas IIII dapat dicopas di sini
»»  READMORE...

Selasa, 15 November 2011

Daftar Bakal Calon Peserta Sertifikasi Guru 2012

Bagi guru2 di Kabupaten Pemalang dapat melihat Daftar Calon Peserta Sertifikasi Guru 2012. Adapun Daftar Sertifikasi Gurutersebut dapat dilihat di sini
»»  READMORE...

Rabu, 09 November 2011

HAI JAWATENGAH

Hari Aksara Internasional Provinsi Jawa Tengah diperingati 9 November 2011 di Desa Gemawang Kecamatan Jambu Kabupaten Semarang dengan diawali Upacara yang dipimpin langsung oleh Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo yang sekaligus membuka Pameran HAI Jawa Tengah


Upacara ini diikuti oleh Pejabat teras provinsi Jawa Tengah serta seluruh jajaran Dinas Pendidikan Kab/Kota Se Jawa Tengah yang mengikut sertakan jajaran pendidikan non formal dan informal.

Sebagai rngkaian kegiatan HAI Tahun ini juga diselenggarakan Pameran yang berlangsung dari tanggal 9 s.d `12 Nov. 2011 di lokasi upacara.

Desa Gemawang dipilih sebagai lokasi kegiatan nonormal dan informal ini karena Desa tersebut merupakan salah satu DESA VOKASI yang sudah menunjukkan indikasi adanya peningkatan kesejahteraan warganya.

Pada Kegiatan Pameran setiap Kabupaten/Kota menampilkan dua stand yang meliputi Stan Kegiatan Pendidikan Bidang Non formal dan Informal, PKBM serta hasil kegiatan. Stan yang lain adalah Parade Mobil Edukasi baik Taman Bacaan Masyarakat maupun Mobil Pintar,

»»  READMORE...

Jumat, 04 November 2011

SELAMAT DATANG


KEDAI SEKOLAH DASAR
Tempat yang tepat untuk belajar mengajar pada jenjang pendidikan dasar khususnya pada satuan pendidikan Sekolah Dasar.

Kami berupaya melalui KEDAI SEKOLAH DASAR menyajikan administrasi pembelajaran mulai dari Silabus SD, RPP SD sampai dengan Bank Soal serta beberapa artikel yang terkait



Sudah barang tentu blogspot KEDAI SEKOLAH DASAR yg sederhana ini masih jauh dari sempurna, namun dengan dukungan dari pembaca baik berupa komentar maupun sumbangan pikiran serta sumbangan artikel , insya allah dapat menginspirasi anak-anak bangsa yang peduli kepada pendidikan di Sekolah Dasar.

KEDAI SEKOLAH DASAR tetap semangat !!!
Semoga ... Amin
»»  READMORE...

MusicPlaylistView Profile
Create a playlist at MixPod.com

baba